Kamis, 26 April 2012

Integritas Intelektual, Moral, Religius


INTEGRITAS INTELEKTUAL, MORAL, RELIGIUS

Paper Halaqoh
Disajikan pada tanggal 28 Oktober 2011
Diasuh Oleh
Prof. Dr. Kyai H. Ahmad Mudlor, SH

Oleh
Nora Akbarsyah
Mahasiswa Semester VII
Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Ilmu Kelautan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya







Halaqoh Ilmiah
LEMBAGA TINGGI PESANTREN LUHUR MALANG
Oktober 2011
1.      Pendahuluan
Integritas dapat diibaratkan sebagai sebuah keberanian. Novelis Ernest Hemingway menyebutnya sebagai grace under pressure, yaitu keagungan yang tetap bermartabat dan tidak hilang keanggunannya sekalipun berada dibawah tekanan dan represi. Dengan kata lain yang memiliki integritas adalah mereka yang bersedia untuk menghadapi kontradiksi antara keadaan yang nyata dan prinsip yang diyakini.
Kita semua menyadari bahwa kehidupan bukanlah dua bidang yang hitam putih dan dibatasi oleh satu garis lurus. Dalam kehidupan kita juga mengahdapi spektrum cahaya yang kaya dan penuh warna. Disana kita dihadapkan  pada realita kehidupan, disana kita dihadapkan pada pilihan-pilihan moral. Hanya mereka yang berani dan memiliki integritas tinggilah yang dapat melalui tantangan kehidupan yang sedemikian berat tanpa harus turut larut didalamnya  (Supriyanto, 2006).
Pentingnya penumbuhan dan pengasahan integritas sejak usia dini adalah sebuah PR besar bangsa ini, yang mana integritas memang menjadi suatu hal yang sangat penting untuk kepemimpinan kedepan suatu bangsa. Integritas menjadi modal utama seorang pemimpin.
Integritas merupakan bagian dari suatu kepribadian atau bisa disebut sebagai kualitas dari suatu pribadi manusia. Pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mengembangkan kualitas pribadi seseorang. Potensi pribadi manusia sudah dianugerahkan Tuhan sejak lahir. Tuhan memberikan potensi untuk berbuat kebaikan. Pembentukan kepribadian seseorang terkait dengan peranan orang tua, pendidikan formal, masyarakat, dan  budaya.
 Seorang individu memiliki integritas diri dan kredibilitas apabila unsur-unsur LAWS(love, assertion, weakness, dan strenght) sudah diterapkan secara seimbang dalam kehidupan, dilingkungan kerja, dikantor, pemerintahan, dan masyarakat luas. Kesadaran akan adanya cinta (love) merupakan perekat dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Cinta memampukan kita untuk tertarik, bersimpati, dan berbeda rasa dengan orang lain. Kesadaran akan ketegasan (assertion) berarti tegas terhadap nilai yang dipegang sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Ketegasan berarti menolak kezaliman, kekerasan, dan ketidak adilan, yang diberlakukan terhadap diri sendiri yang diberlakukan terhadap diri sendiri dan orang lain yang berada disekitarnya. Kesadaran akan kekuatan (strenght) dan kelemahan (weakness) akan mendorong individu untuk mengakui kelemahan yang dapat diperbaiki, dan adanya kebergantungan pada Dzat selainnya Yang Maha Kuat. Serta kekuatan yang akan menjadi sumbangan bagi diri sendiri, orang lain, dan negara. Unsur-unsur LAWS ini merupakan sebuah refleksi dari kualitas atau integritas  intelektual, moral, serta religius yang ada pada diri pribadi manusia. Yang mana dalam sebuah kehidupan ketiga unsur tersebut berperan sangat penting, karena berhubungan dengan perilaku seorang individu setiap waktu.
Pentingnya mengetahui lebih jauh dan mendalam tentang kualitas atau integritas intelektual, moral, serta religius seseorang yang memang sangat berhubungan dalam kehidupan sehari-hari adalah latar belakang adanya makalah ini. Dimana didalam pembahasan akan dipaparkan lebih lanjut mulai dari pengertian dari integritas, integritas intelektual, integritas moral, integritas religius, serta hubungan antara ketiganya.










2.      Pembahasan
Secara etimologi, integritas berasal dari bahasa Latin, integer, yang artinya keseluruhan. Integritas dapat diartikan dengan ukuran cinta dan rasa kasih sayang individu terhadap cita-cita, gagasan, dan keinginan. Integritas merupakan hasil dari suatu proses interaksi antara pribadi/individu manusia dan lingkungan sosial berdasarkan suatu tata nilai dasar yang diyakini. Integritas berarti tidak terpecah atau retak. Keutuhan, kesatuan, keseimbangan, keselarasan, dan sinergi, merupakan komponen yang saling melengkapi menjadi satu kesatuan pribadi yang tangguh dan berdaya guna. Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia, integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan satu kesatuan yang utuh sehingga memiliki kemampuan yang memancarkan kewibawaan.
Ada dua aspek penting dalam integritas. Pertama, integritas bukanlah sekadar rangkaian huruf yang diucapkan. Integritas membutuhkan tindakan aktif yang didasarkan pada pertimbanagan rasional. Orang yang memiliki integritas memiliki keinginan untuk berubah seiring dengan peningkatan pengetahuannya. Kedua, integritas melibatkan tindakan tindakan yang berdasarkan  pada keadilan moral. Keadilan moral berarti kode prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang ada selama keberadaan manusia sebagai makhluk rasional.
Intregitas intelektual seseorang dapat dikatakan baikapabila individu tersebut mampumenerima informasi dengan baik, mampu menyimpan dan mengolahnya pada waktu yang tepat dan pada saat dibutuhkan, dapat mengambil dan mengolah kembali informasi tersebut baik yang didapat melalui pengelihatan, pendengaran, maupun penciuman.
Integritas moral seseorang dapat disebut juga kemampuan emosional seseorang dalam mengerti dan menjalankan perannya dengan individu-individu lain. Dapat dianalogikan seperti kemampuan seseorang mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.
Sementara itu, Steven J. Stein dan Howard E. Book menjelaskan penemuan Reuven Bar-On yang merangkum integritas emosional dan dibaginya kedalam lima area atau ranah yang keseluruhan nya ada 15 subbagian atau skala. Kelima ranah kecerdasan tersebut adalah (1) ranah intrapribadi, meliputi kesadaran diri, sikap asertif, kemandirian, penghargaan diri, dan aktualisasi diri; (2) ranah antar pribadi, meliputi empati, tanggung jawab sosial, hubungan antar pribadi; (3) ranah penyesuaian diri, mencakup uji realitas, sikap fleksibel, dan pemecahan masalah; (4) ranah pengendalian stress, meliputi: ketahanan menanggung stress, dan pengendalian impuls; (5) ranah suasana hati umum, terdiri dari optimism, kebahagiaan.
Dalam bahasa agama, integritas moral adalah kepiawaian menjalin hubungan “hablun min al-nas”. Pusat dari moral adalah “qalbu” atau hati. Hati dapat mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdala yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani.
Integritas religius dapat dikatakan pua sebagai integritas spiritual dari seorang individu. Yang mana bagian ini adalah bagian yang paling utama dari beberapa integritas lainnya. Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti roh atau jiwa. Kata ini berasal dari bahasa latin spiritus, yang berarti nafas. Roh bisa diartikan sebagai energi kehidupan yang memebuat manusia dapat hidup, bernafas, dan bergerak. Spiritual berarti sesuatu diluar fisik, termasuk pikiran, perasaan dan karakter kita. Dengan memiliki integritas spiritual berarti bisa memahami sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang kita jalani dan kemana kita akan pergi. Dapat juga dikatakan bahwa integritas spiritual merupakan mutu atau kualitas seseorang dalam member makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam menggapai kualitas hanif dan ikhlas.
Orang yang mempunyai integritas spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional dan emosional saja. Dia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Dia merujuk pada warisan spiritual seperti teks-teks Kitab Suci untuk memebrikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi. Orang yang memeunyai integritas spiritual tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan member makna positif pada setiap peristiwa atau masalah yang dialaminya. Dengan member makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanyadan melakukan perbuatan serta tindakan yang positif. Manusia yang memiliki integritas spiritual tinggi cenderung akan lebih bertahan hidup daripada yang berintegritas rendah. Banyak kejadian bunuh diri karena masalah sepele, yang demikian itu adalah mereka yang tidak bisa member makna yang positif terhadap setiap kejadian yang mereka alami. Dengan kata lain integritas spiritual mereka sangat rendah.
Ketiga integritas tersebut akan berfungsi maksimal apabila saling berkaitan satu sama lain. Ketiganya akan berintegrasi apabila orientasi hidup kita adalah ketauhidan, menerima Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Namun jika orientasi hidup kita adalah materi, maka ketiganya tersebut akan terpisah. Selanjutnya, apabila kita hanya berorientasi pada materi, saat masalah dating pada kita, maka radar hati akan bereaksi menangkap sinyal emosi yang tidak terkendali, dan kemudian akan muncul rasa marah, sedih, kesal, dan takut. Akibat emosi yang tidak terkendali Godspot akan menjadi terbelenggu dan suara hati Ilahinyah tidak memiliki peluang untuk muncul dan didengar, sehingga suara hati yang bersifat mulia itu (spiritual) tidak mampu berkolaborasi dengan potensi lainnya (moral dan intelektual). Saat hati kita tertutup, maka emosilah yang memegang kendali. Emosi ini akan memerintahkan intelektual untuk menghitung berdasarkan dorongan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, iri hati, dan kedengkian, sehingga yang terjadi kemudian adalah kekacauan dan masalah tidak mampu dicari solusinya.
Sangat berbeda ketika orientasi hidup kita terarah pada ketauhidan. Ketika masalah dan tantangan muncul, maka radar hati akan langsung menangkap getaran sinyal. Ketika sinyal itu menyentuh dinding tauhid, kesadaran tauhid akan menyadarkan emosi. Hasilnya adalah emosi yang terkendali terwujud seperti timbulnya rasa tenang. Dengan emosi yang terkendali, maka Godspot akan terbuka dan bisa bekerja, sehingga bisikan-bisikan Ilahiyah yang mengajak pada sifat-sifat keadilan, kasihsayang, kejujuran, kepedulian, dsb. Dengan dorongan sifat mulia itu, potensi kecerdasan intelektual bekerja optimal.
Dalam perspektif islam, telah dikenal istilah aql, qalb, dan fuad sebagai pusat pengendali intelektual, moral, dan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa islam memberikan apresiasi yang sama terhadap ketiga sistem tersebut. Hubungan ketiganya dapat dikatakan saling membutuhkan dan melengkapi. Namun apabila dipilah-pilah , maka spiritual merupakan causa prima dari intelektual dan moral. Spiritual mengajarkan interaksi manusia dengan Sang Khaliq, sementara intelektual dan moral mengajarkan interaksi manusia dengan dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Tampa ketiganya bekerja secara proporsional, maka manusia tidak dapat menggapai statusnya menjadi “khalifah” dimuka bumi ini. Oleh karena islam memberikan penekanan yang sama terhadap “hablun min Allah” dan “hablun min An-nas”, maka dapat diyakini bahwa keseimbangan intelektual, moral dan spiritual merupaka substansi dari ajaran islam. Penggabungan dari ketiga hal ini akan menghasilkan manusia-manusia paripurnayang siap menghadapi hidup dan menghasilkan efek kesuksesan atas apa yang dilakukannya.


























3.      Kesimpulan

Integritas adalah mutu atau kualitas dari komponen-komponen yang saling melengkapi menjadi satu kesatuan pribadi yang utuh, memiliki hati nurani yang bersih, berprinsip moral tangguh dan berdaya guna, serta takut hanya kepada Tuhan. Integritas intelektual seseorang dapat dikatakan baik apabila individu tersebut mampu menerima informasi dengan baik, mampu menyimpan dan mengolahnya pada waktu yang tepat, serta pada saat dibutuhkan, dapat mengambil dan mengolah kembali informasi tersebut baik yang didapat melalui penglihatan, pendengaran maupun penciuman. Integritas moral seseorang dapat disebut juga kemampuan emosional seseorang dalam mengerti dan menjalankan  perannya dengan individu-individu lain. Dapat dianalogikan seperti kemampuan seseorang mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Integritas spiritual merupakan mutu atau kualitas seseorang dalam member makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam menggapai kualitas hanif dan ikhlas. Ketiga integritas tersebut akan berfungsi maksimal apabila saling berkaitan satu sama lain. Ketiganya akan berintegrasi apabila orientasi hidup kita adalah ketauhidan, menerima Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Namun jika orientasi hidup kita adalah materi, maka ketiganya tersebut akan terpisah. Tampa ketiganya bekerja secara proporsional, maka manusia tidak dapat menggapai statusnya menjadi “khalifah” dimuka bumi ini. Oleh karena islam memberikan penekanan yang sama terhadap “hablun min Allah” dan “hablun min An-nas”, maka dapat diyakini bahwa keseimbangan intelektual, moral dan spiritual merupaka substansi dari ajaran islam. Penggabungan dari ketiga hal ini akan menghasilkan manusia-manusia paripurnayang siap menghadapi hidup dan menghasilkan efek kesuksesan atas apa yang dilakukannya.