Senin, 16 April 2012

Pengertian Karakter Bangsa dan Budaya Bangsa


Pengertian Karakter Bangsa dan Budaya Bangsa

Paper Halaqoh
Disajikan pada tanggal 4 Maret 2011
yang diasuh oleh Prof. Dr. Kyai H. Ahmad Mudlor, SH


Oleh
Nora Akbarsyah
Mahasiswa Semester VI
Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Ilmu Kelautan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya





Halaqoh Ilmiah

LEMBAGA TINGGI PESANTREN LUHUR MALANG
Maret 2011

1.    Pendahuluan

Indonesia adalah negara yang sangat majemuk bila dibandingkan dengan negara lainnya didunia. Kemajemukan ini terlihat dari adanya berbagai suku bangsa yang mendiami pulau-pulau kecil dan besar. Diperkirakan terdapat lebih dari 500 suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia ini. Jumlah ini termasuk yang termasuk di Maluku (Maluku Utara, Maluku Tengah, Maluku Tenggara, dan Maluku Tenggara Barat ) yang diperkirakan lebih dari 100 suku bangsa dan sub suku bangsa. Tidak heran kalau beberapa pulau kecil diMaluku didiami oleh satu suku bangsa saja sehingga menjadikan suku bangsa tersebut sebagai penguasa pulau. Misalnya Pulau Ternate, Tidore, Makian, dan Kayoa diMaluku Utara atau pulau-pulau kecil di Maluku Tenggara dan Maluku Tenggara Barat. Masing-masing suku bangsa yang mendiami wilayah tertentu membangun dan mengembangkan kebudayaan mereka serta memperlihatkan identitas dan jatidiri mereka sebagai pendukung kebudayaan.[1]
Setiap program memerlukan kajian budaya. Jika ada program pemerintah yang mengalami hambatan, biasanya yang dijadikan kambing hitam adalah budaya. “nilai-nilai yang menjadi muatan program belum membudaya,” kata orang. Atau budaya di anggap sulit berubah. Jika ada nilai baru yang penerapannya memerlukan perubahan dan perubahan itu oleh penguasa dianggap dapat merugikan kepentingannya, maka yang dijadikan dasar penolakan terhadap nilai baru itu adalah budaya : tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Contoh nilai baru yang ditolak berdasarkan alasan itu antara lain nilai-nilai yang merupakan muatan budaya mundur, budaya oposisi, konsumerisme, kontrol sosial, dan sebagainya.
Untuk menerangkan konsep budaya , The International Encyclopedia of The Social Science (1972) yang menggunakan dua pendekatan untuk studi anthropologi periode 1900-1950 yaitu (1) pendekatan pola-proses (process-pattern theory, culture pattern as basic) yang dibangun oleh Franz Boas (1858-1942) dan dikembangkan oleh Alfred Louis Kroeber (1876-1960), dan (2) pendekatan struktural-fungsional (structural-functional theory, social stucture as basic) yang dikembangkan oleh Bronislaw Malinowski (1884-1942) dan Radclife-Brown. Kedua teori itu tercakup didalam definisi budaya dalam arti luas yang meliputi culture dan civilization menurut Edward Burnett Tylor (1832-1917):
Culture and civilization, taken in its wide ethnographic sense, is that complex whole which includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society.[2]
Vijay Sathe (op. cit.) mendefinisikan budaya sebagai the set of important assumptions (often unstated) that member of a community share in common. Assumption meliputi beliefs, yaitu asumsi dasar tentang dunia dan bagaimana dunia berjalan, dan values seperti telah diuraikan diatas, sebagaimana diamati, dan tidak sebagaimana mereka (member of any community) katakan, karena yang satu bisa berbeda dengan yang lain (lain dimulut lain dihati).
Upaya untuk membangun dan mengembangkan kebudayaan nasional diusahakan terus baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah. Tidak dapat disangkal upaya tersebut dapat juga dilakukan dengan cara “paksaan” lewat regulasi yang dibuat oleh pemerintah. Pelaksanaan UU No.5 tahun 1979 tentang pemerintah desa dan pembudayaan Pancasila lewat perantaraan-perantaraan P4 yang bernuansa politik merupakan contoh bagi kita. Upaya lain yang dilakukan adalah menetapkan mata kuliah pancasila dan kewarganegaraan dalam kurikulum perguruan tinggi. Cara yang terbaik adalah dengan membangun kesadaran anggota masyarakat dari dari berbagai latar belakang kebudayaan tentang perlunya sebuah kerangka acuan, sebuah sistem budaya nasional bagi setiap warga negara untuk berperilaku dan bertindak ketika melakukan aktivitasnya didalam berbagai bidang kehidupan. Dengan kesadaran itu, setiap orang sebagai warga negara dapat merasakannya sebagai miliknya sendiri, memeliharanyadan mengidentifikasikan dirinya dengan budaya nasional tersebut; contoh : seseorang yang bebas menggunakan busana batik dalam acara-acara yang dianggap penting.
Bila kita tengok sejenak perkembangan sejarah bangsa sejak bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan, suatu ketika kita merasa bangga sebagai bangsa Indonesia sebagai akibat prestasi dan penghargaan yang diberikan kepada bangsa Indonesia. Pada masa pemerintahan presiden Soekarno, bangsa Indonesia pernah mengalami masa-masa di mana bangsa Indonesia diperhitungkan dalam percaturan dunia. Gerakan non-blok yang merupakan suatu gerakan untuk mengimbangi tarikan ke kanan dan ke kiri dilahirkan di Indonesia. Prestasi puncak perbulutangkisan dimulai sejak masa itu. Bila kita berkunjung ke Timur Tengah, bila mengatakan dari Indonesia segera di kenal negara yang dipimpin oleh seorang tokoh yang bernama Soekarno, dan masih banyak lagi prestasi-prestasi yang dapat dibanggakan pada masa itu.
Apakah hal ini merupakan sisa-sisa peninggalan masa penjajahan yang memandang rendah terhadap dirinya sendiri, dan memuja-muja pihak lain yang dinilainya lebih hebat. Minderwaardigheidscomplex masih merasuk dalam diri bangsa Indonesia, sehingga semboyan yang selalu didengung-dengungkan oleh Presiden Soekarno :”ini dadaku, mana dadamu,” sudah hilang dari perbendaharaan budaya bangsa. Bukti menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih lebih mengagung-agungkan budaya, sistem, dan pola tata-laku kehidupan berbangsa dan bernegara dari negara lain. Kita mengimpor dengan serta merta demokrasi yang diterapkan di negara lain; kita memperjuangkan hak asasi manusia untuk kepentingan pihak lain, dan masih banyak lagi hal- hal yang merupakan pencerminan perilaku sebagai kaki-tangan penjajah.
Kalau melihat budaya bangsa kita, mungkin tak terhitung jumlahnya. Mulai dari tarian, adat, bahasa, suku, baju adat dan lain-lain. Tapi semua itu sudah terkontaminasi, atau sudah tercampur dengan budaya-budaya lain yang lebih banyak memberikan dampak negatif, misalnya : pakaian adat barat yang masuk, dll.
maka dari itu perlu dibuat suatu gerakan khususnya dari pemuda-pemuda Indonesia untuk mencintai budaya bangsa sebagai identitas bangsa dan menumbuhkan karakter bangsa.





2.    Pembahasan

1.      Pengertian Karakter Bangsa
       Karakter sering diberi padanan kata watak, tabiat, perangai atau akhlak. Dalam bahasa Inggris character diberi arti a distinctive differentiating mark, tanda yang membedakan secara tersendiri. Karakter adalah keakuan rohaniah, het geestelijk ik, yang nampak dalam keseluruhan sikap dan perilaku, yang dipengaruhi oleh bakat, atau potensi dalam diri dan lingkungan. Karakter secara harfiah adalah stempel, atau yang tercetak, yang terbentuk dipengaruhi oleh faktor endogeen/dalam diri dan faktor exogeen/luar diri. Sebagai contoh rakyat Indonesia semula dikenal bersikap ramah, memiliki hospitalitas yang tinggi, suka membantu dan peduli terhadap lingkungan, dan sikap baik yang lain; dewasa ini telah luntur tergerus arus global, berubah menjadi sikap yang kurang terpuji, seperti mementingkan diri sendiri, mencaci maki pihak lain, mencari kesalahan pihak lain, tidak bersahabat dan sebagainya. Karakter dapat berubah akibat pengaruh lingkungan, oleh karena itu perlu usaha membangun karakter dan menjaganya agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan dan menjerumuskan.
       Dalam ilmu karakter atau karakterologi, karakter diberi arti gerak-gerik, tingkah laku, amal perbuatan, cara bersikap hidup yang tetap yang berakar di dalam jiwa seseorang, yang menyebabkan orang itu dalam keseluruhannya berlainan dari orang yang lain. Karakter dalam bahasa Arab disebut tabiat, dalam bahasa Indonesia disebut “watak” yang berarti perangai batin, yang bermakna bentuk pribadi, tingkah laku atau budi pekerti.
       Akhlak menurut istilah agama berarti sikap yang digerakkan oleh jiwa yang menimbulkan tindakan dan perbuatan manusia, baik terhadap Tuhan, terhadap sesama manusia, terhadap dirinya sendiri ataupun terhadap makhluk lainnya, sesuai dengan kitab suci.
       Istilah karakter, akhlak sangat dekat dengan istilah ethos dan moral. Ethika berasal dari kata Yunani “ethos” yang berarti “adat kebiasaan” sama dengan istilah moral yang bermakna “tata susila” atau “tata krama”. Ilmu akhlak, ethika/moral dan karakter yang disebut ethika merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan dan memperlajari gerak-gerik jiwa, sikap dan tingkah laku yang baik dan buruk, yang terpuji dan tercela, yang bersumber dari dorongan rohani atau jiwanya.
            Ada ahli yang berpendapat bahwa manusia tercipta dalam perbedaan secara individual, hal ini nampak dalam tingkat kecerdasan, dalam kemampuan ungkapan emosional dan manifestasi kemauan. Manusia juga dibekali oleh Tuhan dengan kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, meski ukuran benar-salah dan baik-buruk mengalami perkembangan sesuai dengan pertumbuhan yang dialami oleh manusia dan tantangan zamannya. Dengan demikian moral dan karakter pada manusia melekat secara kodrati, namun selalu mengalami perkembangan sesuai dengan pertumbuhan dan tantangan yang dihadapi. Karakter merupakan jatidiri individu, suatu kualitas yang menentukan suatu individu atau entitas, sedemikian rupa sehingga diakui sebagai suatu pribadi yang membedakan dengan individu atau entitas lain. Kualitas yang menggambarkan suatu jatidiri bersifat unik, khas, yang mencerminkan pribadi individu atau entitas dimaksud, yang akan selalu nampak secara konsisten dalam sikap dan perilaku individu atau entitas dalam menghadapi setiap permasalahan.
       Meskipun demikian karakter mengandung nilai-nilai dasar yang bersifat universal, yang ingin diwujudkan dalam bersikap dan bertingkah laku, serta kompetensi-kompetensi yang perlu dikembangkan dan direalisasikan.
       Nilai-nilai dasar yang perlu dikembangkan di antaranya adalah : keadilan, kebenaran, kebijaksanaan, kejujuran, keberadaban, kebebasan, kesetaraan, kesejahteraan, ketaqwaan, keimanan, kesabaran, keikhlasan/ridho, amanah, kecintaan/kasih sayang, kebersamaan, kesetia-kawanan, rendah hati, kedamaian, bekerja keras, kesederhanaan, kebersamaan, kepatuhan, pengendalian diri, tenggang rasa, gotong royong, kepedulian serta menjauhi sifat iri dan dengki. Nilai-nilai tersebut perlu difahami maknanya dan diwujudkan dalam kenyataan.
       Sedang kompetensi yang perlu dikembangkan di antaranya berupa kemampuan untuk bertanggung jawab, terbuka, transparans, akuntabel, bersaing, ambeg parama arta, mengemukakan gagasan dan aspirasi secara etis, pengambilan keputusan, mengatasi konflik, mengimplementasikan keputusan, mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi, lebih suka memberi dari pada meminta, mengakui kesalahan dan meminta maaf, merasa malu dalam berbuat yang nista, rela berkorban untuk kepentingan bersama.
       Karakter yang merupakan jatidiri manusia yang mengalami perkembangan sebagai akibat pengaruh luar perlu dikembangkan dan dibangun. Oleh karena itu pembinaan karakter merupakan kewajiban manusia agar generasi penerus memiliki karakter seperti yang diharapkan oleh masyarakat tempat individu akan hidup dalam membawa diri menuju sukses.
2.      Dasar Hukum Pembinaan Karakter Bangsa
       Berikut disampaikan berbagai peraturan perundang-undangan sebagai landasan pelaksanaan pembinaan dan pembangunan karakter bangsa.
a. Undang-Undang Dasar 1945, pasal 31 ayat (3) menyebutkan :”Pemerintah mengusahakan dan mneyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”
b. Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 menyebutkan :”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahas Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
c. Ketetapan MPR RI No.VI/MPR/2001, tentang Etika Kehidupan Bernegara, menetapkan :”Pokok-pokok, arah kebijakan dan kaidah pelaksanaan etika kehidupan bernegara, serta merekomendasikan kepada Presiden Republik Indonesia dan lembaga-lembaga tinggi negara serta masyarakat untuk melaksanakan ketetapan tersebut sebagai salah satu acuan dasar dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa.”
d. Pada waktu Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Kehidupan Bernegara (LPPKB) menghadap Bapak Presiden R.I. pada tanggal 22 Pebruari 2005, Bapak Presiden memberikan pesan kepada LPPKB agar menyampaikan suatu gagasan mengenai “Membangun Kembali Bangsa Indonesia,” dengan jalan membangun moral dan karakter bangsa, dengan mengutamakan (a) nation and character building, (b) pembangunan konstitusionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan (c) mengembangkan etika kehidupan bernegara, dengan tidak meninggalkan jatidiri bangsa.
     Peraturan perundang-undangan tersebut di atas dan pengarahan Bapak Presiden merupakan landasan yang kuat bagi usaha membanguan karakter bangsa. Dalam menghadapi gerakan globalisasi, pembangunan karakter bangsa harus segera dilaksanakan dan tidak dapat ditunda-tunda lagi, apabila kita ingin menjadi peserta aktif dalam gerak dan laju globalisasi.
3.       Pengertian Karakter Bangsa Indonesia
            Masih terdapat pandangan yang kontroversial mengenai karakter bangsa. Ada yang berpendapat bahwa karakter bangsa itu tidak ada. Dengan maraknya globalisasi, eksistensi negara-bangsa saja diragukan, oleh karena itu tidak perlu, atau tidak ada manfaatnya untuk membahas karakter bangsa. Namun di sisi lain di belahan dunia ini masih saja terjadi perjuangan sekelompok ummat manusia untuk menuntut diakuinya sebagai suatu bangsa. Suatu contoh yang mencolok mata adalah perjuangan masyarakat Yahudi dan Palestina, yang sama-sama keturunan dari seorang nabi masih berebut untuk mendirikan negara-bangsa masing-masing. Contoh yang lain adalah anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada tahun 1950 anggotanya baru sekitar 50 negara, sekarang sudah sekitar 200 negara.
            Masing-masing negara-bangsa tersebut menunjukkan jatidirinya, yang dapat dilihat dari sikap dan perilakunya, cara untuk menghadapi permasalahan, bahasa ibunya, adat budaya dan sebagainya. Dari realitas tersebut kami beranggapan bahwa karakter bangsa itu ada. Karakter bangsa inilah yang membedakan bangsa yang satu dengan yang lain dilihat dari cara bersikap dan bertingkah laku. Karakter bangsa merupakan belief system yang telah terpatri dalam sanubari bangsa, yang merupakan hasil perpaduan dari faktor endogen bangsa dan faktor eksogen berupa tantangan yang dihadapi oleh bangsa yang bersangkutan. Karena faktor endogen bangsa dan faktor eksogen yang dihadapi oleh masing-masing bangsa berbeda, maka merupakan suatu keniscayaan terbentuknya karakter bangsa.
            Membina karakter bangsa bertujuan agar bangsa yang bersangkutan mampu bersikap dan bertingkah laku dengan sepatutnya sehingga mampu mengantar bangsa menuju kesuksesan hidup. Kesuksesan hidup suatu bangsa tergantung bagaimana bangsa tersebut dapat membawa diri sesuai dengan cita-cita yang didambakannya, serta mampu untuk mengantisipasi secara tepat tantangan zaman. Dengan demikian sumber karakter adalah belief system yang telah terpatri dalam sanubari bangsa, serta tantangan dari luar sehingga akan membentuk sikap dan perilaku yang akan mengantar bangsa mencapai kehidupan yang sukses. Bagi bangsa Indonesia belief system ini tiada lain adalah Pancasila yang di dalamnya terdapat konsep, prinsip dan nilai yang merupakan faktor endogen bangsa Indonesia dalam membentuk karakternya. Dalam rangka memahami karakter bangsa maka perlu difahami konsep, prinsip dan nilai yang terkandung dalam Pancasila.
4.      Pengertian Budaya Bangsa
Adapun beberapa pengertian budaya bangsa menurut ilmuwan adalah :
1. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.


2. M. Jacobs dan B.J. Stern
          Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan sosial.
3. Koentjaraningrat
          Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
4. Ki Hajar Dewantara
          Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
5.      Pengertian Budaya Nasional/Bangsa
     Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut. Misalkan daerah satu dengan yang lain memang berbeda, tetapi jika dapat menyatukan perbedaan tersebut maka akan terjadi budaya nasional yang kuat yang bisa berlaku di semua daerah di Negara tersebut walaupun tidak semuanya dan juga tidak mengesampingkan budaya daerah tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.
6.       Hubungan karakter dan Budaya Bangsa
Secara Global budaya-budaya yang ada disuatu bangsa telah membentuk suatu kecirikhasan bangsa itu sendiri, dimana ciri khas itu akan memunculkan sebuah karakter yang melekat dalam diri bangsa tersebut yang tentunya karakter tersebutlah yang membedakan antara bangsa satu dengan bangsa yang lainnya.


3.    Penutup

a.      Kesimpulan
Karakter Bangsa adalah suatu kebiasaan yang dilakukan oleh suatu bangsa yang menjadi identitas dan pembeda antara bangsa satu dengan bangsa yang lainnya.
Budaya bangsa adalah suatu sistem simbolik atau konfigurasi sistem perlambangan suatu bangsa.
Hubungan karakter bangsa dan budaya bangsa budaya-budaya yang ada disuatu bangsa telah membentuk suatu kecirikhasan bangsa itu sendiri, dimana ciri khas itu akan memunculkan sebuah karakter yang melekat dalam diri bangsa tersebut yang tentunya karakter tersebutlah yang membedakan antara bangsa satu dengan bangsa yang lainnya.

Daftar Pustaka
Ajawaila.J.W.2003. Aku Dalam Budaya Lokal, Budaya Nasional, dan Budaya Global.MitraSari:Jakarta
Ndraha, Taliziduhu.2005.Teori Budaya Organisasi.Penerbit Rineka Cipta:Jakarta.
Dewantara, Ki Hajar. 1994. ”Kebudayaan”. Penerbit Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa; Yogyakarta.
Bakker, JWM. 1999. ”Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar”. Penerbit Kanisius; Yogyakarta.



[1] Ajawalia.Identitas Budaya. 2003
[2] Taliziduhu Ndraha.2005.Teori Budaya Organisasi.hal 19