Minggu, 27 Oktober 2013

“Pengaruh Suhu Terhadap Penentuan Daerah Penangkapan Ikan”

Nora Akbarsyah*) (C451130061)

Ikan adalah hewan air yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Keberadaan ikan diperairan tidak bisa dipisahkan dari faktor – faktor biofisik perairan seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, klorofil, zathara, dsb.
Suhu permukaan laut Indonesia mempunyai kisaran antara 28 – 310 Cdan tergolong suhu yang tinggi. Hal ini disebabakan karena wilayah Indonesia secara geografis berada didaerah ekuator, sehingga memperoleh panas matahari terbanyak. Sebaran suhu permukaan laut Indonesia secara horizontal pada kedalaman antara 0 – 200 m masih diengaruhi oleh arus permukaan sehingga variasi lebih tinggi. Sedangkan pada kedalaman lebih dari 200 m suhu air lebih homogen. Menurut sebaran suhu secara vertikal, lapisan air dibagi menjadi 3 bagian, yaitu lapisan hangat dibagian paling atas, lapisan termoklin dibawahnya, serta lapisan paling dingin di bagian paling bawah.
Risamasu (2011), mengatakan bahwa suhu merupakan salah satu parameter yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan dilaut. Pengaruh suhu secara langsung yaitu pada pembentukan makanan atau fotosintesa tumbuh – tumbuhan, sistem metabolisme serta sistem reproduksi pada hewan. Distribusisuhu secara vertikal dan horizontal juga berpengaruh pada periode pemijahan, kemampuan /  kecepatan perkembangan telur dan larva , serta ketersediaan makanan di perairan. Suhu secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap daya larut oksigen yang digunakan oleh biota laut untuk bernafas. Apabila suhu naik maka daya larut oksigen menurun dan kandungan karbondioksida dalam peraira bertambah. Menurut Pralebda dan Suyuti (1983), Indrawatit (2000), Risamasu (2011), dengan melihat pola distribusi suhu permukaan laut, maka dapat diidentifikasi pula parameter-parameter laut lainnya, seperti arus laut, upwelling, dan front. Peristiwa upwelling merupakan fenomena atau kejadian bergeraknya massa air laut secara vertikal. Penyebab dar upwelling ini adalah adanya statifikasi densitas air  laut. Semakin dalam perairan maka suhu akan semakin menurun dan densitas meningkat, hal ini menimbulkan pergerakan air secara vertikal. Massa air yang beasal dari bawah yang kaya akan zat hara atau nutrient akan naik keatas, sehingga akibat dari peristiwa ini adalah pencampuran secara merata antara nutrient dasar dan nutrient permukaan. Ketika Nutrient, cahaya, dan fitoplankton bertemu dilapisan yang sama, maka produktivitas perairan tersebut akan meningkat. Front, seperti yang di kemukakan oleh Robinson (1985) daam Indrawatit (2000),merupakan daerah dimana terjadi pertemuan dua buah massa air (khususnya suhu dan salinitas) yang mempunyai karakteristik berbeda,  misalnya, pertemuan antara masssa air dari Laut Jawa yang agak panas dengan massa air Samudera Hinda yang lebih dingin.  Front berperan penting dalam produktivitas perairan di laut, karena zat hara atau nutrient yang terbawa dari air yang dingin bercampur dengan kandungan hara pada air yang hangat. Kondisi seperti ini akan memacu peningkatan pertumbuhan plankton. Daerah yang kaya akan makanan biasanya menjadi feeding ground bagi ikan – ikan pelagis.
Faktor-faktor perairan tersebut diatas, berlangsung secara terus menerus di perairan. Pada ikan – ikan tertentu biasanya peka terhadap kondisi perairan tertentu pula. Perbedaan faktor lingkungan perairan tersebut lama kelamaan akan membentuk suatu kebiasaan pola tingkah laku yang berbeda. Misalnya ikan Cakalang dan Tuna biasanya menghindar terhadap suhu perairan yang lebih tinggi, dan berenang ke lapisan pada kedalaman tertentu. Sedangkan ikan Yellowfin Tuna biasanya terdapat pada lapisan homogen diatas lapisan termoklin, untuk Big Eye Tuna biasanya terdapat pada lapisan termoklin.
Menurut Indrawatit (2000), Ikan Lemuru tertangkap pada kisaran suhu permukaan laut antara 25,01 0C -  29,000C. Ikan lemuru ini juga cenderung tertangkap pada suhu 26,010C – 27,000C pada bulan April, Mei, Juli. Sedangkan untuk bulan Oktober, tertangkap pada kisaran suhu 28,010C – 29,000C, dan pada bulan Nopember tertangkap pada kisaran suhu 26,010C – 27,000C. Selanjutnya menurut Laevastu dan Hayes (1981), ikan Sardin Iwashi (Sardinops melanostica) memijah pada suhu sekitar 13 – 170C dengan suhu optimum 140C – 15,50C.
Berbagai macam hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa ikan biasanya suka pada kisaran suhu tertentu. Sehingga parameter suhu dapat dijadikan acuan untuk menentukan daerah penangkapan ikan yang potensial.

*)JURUSAN TEKNOLOGI PERIKANAN LAUT, FAKULTAS PPERIKANAN DAN ILMU KELATAN, INSTITUT PERTANIAN BOGOR, 2013