Sabtu, 18 Januari 2014

DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN (PERMASALAH DAN SOLUSI)

DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN (PERMASALAH DAN SOLUSI) DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN MUARA ANGKE
JAKARTA TIMUR


TUGAS KELOMPOK MATA KULIAH
KEPELABUHANAN DAN INDUTRI

I.       PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Salah satu fungsi pelabuhan perikanan adalah sebagai pusat pemasaran dan perindutrian hasil tangkapan. Ikan – ikan yang di daratkan di pelabuhan perikanan, selain ditujukan untuk konsumsi lokal, juga dapat distribusi keluar daerah maupun ekspor. Usaha perindustrian ikan dari pelbuhan baik keluar daerah maekspor, dilakukan dengan tujuan untuk memahami kebutuhan ikan dan juga agar ikan yang diperoleh dari hasil tangkap mempunyai nilai lebihnya
Salah satu pelabuhan perikanan yang mempunyai potensi produksi dan pemasaran hasil tangkapan yang cukup besar dan strategis adalah Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta. Selain potensi produksi yang cukup besar di PPSNZ Jakarta juga memiliki potensi pemasaran yang cukup baik, dilihat dari letak dan strategis, yaitu letak dengan ibu kota negara yang jumlah penduduknya sangat banyak dan di dukung dengan sarana yang memadai.
Masalah pemasaran dan  distribusai hasil tangkapan sangat erat kaitannya dengan peran pelabuhan perikanan, karena pelabuhan perikanan merupakan tempat pertama sekali hsail tangkapan di pasarkan, sebagaimana hail ini tercantum dalam Undang – Undang RI No 31 Tahun 2004 tentang perikanan.
Salah satu fungsi dari pelabuhan perikanan adalah sebagai pusat pemasaran dan perindustrian hasil tangkapan,. Dengan demikian untuk menjalankan fungsi tersebut, pelabuhan perikanan memerlukan dukungan fasillitas pemasaran dan perindustrian yang memadai., sehingga jalannya distribusi dan pemasaran hasil tangkapan dapat berjalan dengan lancar dan dapat dilakukan pengembangan.
Fungsi pelabuhan perikanan dapat ditinjau berbagai kepentingan, salah satunya sebagai fungsi komersil. Fungsi ini timbul karena pelabuhan perikanan sebagai tempat awal utnuk mempersiakan pendistribusian produksi ikan melalui transaksi pelelangan ikan. Fasilitas yang dibutuhkan dalam hal ini aktivitasa pemasaran dan distribusi hasil tangkapan yang ada di pelabuhan,adalah berupa dermaga, lahan parkir, tempat pelelangan ikan (TPI) dan jenis transportasi yang digunakan. Salah satu cara yang dapat digunkanan untuk mengoptimalkan fungsi fasilitas –fasilitas tersebut dengan menggunakan informasi karakteristik distribusi hasil tangkapan.
Berdasarkan Departemen Perikanan dan Kelautan 2005 bahwa pasal 41 ayat 1 Undang – undang No. 31 Tahun 2004 tentang perikanan, pelabuhan perikanan sebagai suatu lingkungan kerja berfungsi sebagai :
a.       Pusat pengembangan masyarakat nelayan.
b.      Tempat berlabuh kapal perikanan.
c.       Tempat pendaratan hasail tangkapan.
d.      Tempat untuk memperlancar kegiatan kapal – kapal perikanan.
e.       Pusat pemasaran dan distribusi hasil tangkapan.
f.       Pusat pelaksanaan pembinaan mutu hasil perikanan.
g.      Pusat pelaksanaan penyaluran dan pengumpulan data.

1.2        Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui permasalahan mengenai distribusi hasil tangkapan di Pangkalan Pendaratan Ikan di Muara Angke Jakarta dan memberi solusi dengan masalah yang terdapat di dalamnya.

II.    PEMBAHASAN

2.1        Kondisi Umum Pelabuhan PPI Muara Angke
2.1.1  Letak Geografis dan Administratif
Kawasan Muara Angke terletak di bagian utara sebelah barat Propinsi DKI Jakarta dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kawasan Muara Angke termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan Kota Jakarta Utara. Daerah perikanan Muara Angke memiliki luas wilayah 771.9 ha. Batas-batas Kawasan Muara Angke adalah :
ð  Sebelah barat berbatasan dengan Kali Angke.
ð  Sebelah timur berbatasan dengan Jalan Pluit Barat.
ð  Sebelah selatan berbatasan dengan Kali Angke.
ð  Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa
Kawasan Muara Angke terletak di delta Muara Angke di sebelah barat dan selatan berbatasan dengan kali Angke, di sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Pluit tepatnya pada posisi 106015’ BT dan 590LS sedangkan di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Kawasan Muara Angke mempunyai kontur permukaan tanah datar dengan ketinggian dari permukaan laut antara 0–1 meter. Geomorfologi kawasan pantainya lunak sehingga daya dukung tanah rendah dan proses intrusi air laut tinggi, sedimen dasar laut dominan oleh lumpur (lempung dan danau) (Anonim, 2006 vide Aulia, 2011). Dasar laut yang berlumpur menjadikan kawasan perairan Muara Angke menjadi daerah penangkapan ikan yang cukup strategis. Dasar laut dengan kontur tersebut merupakan tempat tinggal dari ikan-ikan dasar yang bernilai ekonomis tinggi.
Berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 598 tentang Penetapan Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke Jakarta Utara sebagai Pangkalan Pendaratan Ikan Daerah dan Pusat Pembinaan Kegiatan Perikanan DKI Jakarta, Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke memiliki luas ±649.784 m2. Sedangkan berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 1263 tentang Panduan Rancang Kota Kawasan Pembangunan Terpadu Muara Angke Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara, dengan adanya rencana reklamasi Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke seluruhnya menjadi seluas ±71,71 ha (UPT PKPP dan PPI Muara Angke, 2008).
Sejak tahun 1976 kawasan Muara Angke secara keseluruhan dipersiapkan untuk menampung kegiatan perikanan yang tersebar dibeberapa lokasi dan dalam kawasan Muara Angke sampai dengan saat ini telah dimanfaatkan untuk :
a)      Perumahan nelayan;
b)      Pengelolaan hasil perikanan tradisional (PHPT);
c)      Tambak uji coba;
d)     Kawasan pelabuhan perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan beserta fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang lainnya.

2.1.2  Pengelolaan PPI Muara Angke
Unit Pelaksana Teknis Pengelola Kawasan Pelabuhan Perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan (UPT PKPP) merupakan UPT Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta dibidang pengelolaan kawasan pelabuhan perikanan dan Pangkalan Pendaratan Ikan. Sesuai dengan Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 105 Tahun 2002, UPT PKPP dan PPI mempunyai tugas sebagai berikut:
1)      Mengatur, mengelola dan memelihara fasilitas pelabuhan perikanan, pelelangan ikan dan Pangkalan Pendaratan Ikan beserta sarana penunjangnya;
2)      Mengelola pemukiman nelayan beserta fasilitas kelengkapannya; dan
3)      Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban lingkungan kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan.  

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan, umumnya tugas-tugas yang dilakukan oleh UPT PKPP dan PPI untuk mengelola PPI Muara Angke telah terlaksana dengan cukup baik, hal ini dapat dilihat dari kemudahan dalam melakukan aktivitas perikanan di kawasan PPI Muara Angke dengan tersedianya fasilitas dan sarana yang mendukung kegiatan perikanan khususnya perikanan tangkap. Selain memiliki tugas, UPT PKPP dan PPI memiliki fungsi, fungsi tersebut yaitu (UPT PKPP dan PPI Muara Angke, 2008):
a)      Menyusun program dan rencana kegiatan operasional;
b)      Perencanaan, pemeliharaan, pengembangan dan rehabilitasi dermaga dan pelabuhan;
c)      Penertiban rekomendasi izin kapal perikanan yang masuk dan keluar pelabuhan perikanan dari aspek kegiatan perikanan;
d)     Pelayanan tambat labuh dan bongkar muat kapal ikan;
e)      Penyediaan fasilitas penyelenggaraan pelelangan ikan dan penyewaan fasilitas penunjang lainnya;
f)       Pengelolaan lahan yang diperuntukan bagi kegiatan usaha yang menunjang usaha perikanan.
g)      Pengelolaan sarana fungsional, sarana penunjang dan pengusahaan barang dan atau pihak ketiga;
h)      Pelayanan fasilitas sandar kapal, pasar grosir, pasar pengecer, pengolahan ikan, pengepakan ikan gudang hasil perikanan dan usaha pengolahan ikan;
i)        Pengkoordinasian kegiatan operasional instansi terkait yang melakukan aktivitas di Pangkalan Pendaratan Ikan;
j)        Penyelenggaraan keamanan, ketertiban dan kebersihan di kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan; dan
k)      Pengelolaan urusan ketatausahaan.

Dalam menjalankan fungsi dan tugasnya UPT PKPP dan PPI memiliki struktur organisasi. Sesuai dengan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 105 tahun 2002 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Dinas Kelautan dan Pertanian Propinsi DKI Jakarta, susunan organisasi UPT PKPP dan PPI terdiri dari (UPT PKPP dan PPI Muara Angke, 2008):
1)      Kepala Unit;
2)      Sub Bagian Tata Usaha;
3)      Seksi Kepelabuhanan Perikanan;
4)      Seksi Pelelangan Ikan;
5)      Seksi Fasilitas Usaha;
6)      Seksi Pemukiman Nelayan, Keamanan dan Ketertiban; dan
7)      Sub Kelompok Jabatan Fungsional.

2.1.3  Kondisi dan potensi kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke
Saat ini kawasan Muara Angke telah banyak mengalami perkembangan dan secara eksisting telah dimanfaatkan untuk pembangunan sarana dan prasarana untuk kepentingan nelayan. Secara garis besar Muara Angke terbagi menjadi empat kawasan, yaitu:
1)            Perumahan nelayan
Sejak tahun 1978, kompleks perumahan nelayan dibangun pada lahan seluas 21,16 ha dengan jumlah rumah sebanyak 1.728 unit. Sebanyak 1.128 unit pengelolanya sama dengan BTN maupun Perumnas yaitu dengan cara sewa/beli dengan jangka waktu antara 15-18 tahun, sedangkan sebanyak 600 unit berupa rumah susun disalurkan nelayan dengan cara sewa.
Di komplek perumahan nelayan tersebut telah dibangun pula fasilitas pendukung lainnya seperti:
a.       TK, SD dan SMP;
b.      Mushola dan Masjid;
c.       Puskesmas;
d.      Rumah sakit paru-paru;
e.       Pasar Inpres;
f.       Berbagai fasilitas lainnya.
2)            Pengolahan hasil perikanan tradisional (PHPT)
Pada tahun 1983 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah membangun 201 unit pengolahan tadisional di atas lahan seluas ±5ha. Setiap unit pengolahan terdiri atas rumah kerja berlantai 2 ukuran 5×6 m dan tempat penjemuran ikan seluas 120 m² yang disalurkan dengan cara sewa yang besarnya sesuai peraturan daerah yang berlaku.
Jenis ikan yang diolah antara lain: ikan bilis, bloso, cucut, cumi-cumi, layang, pari, pepetek, tenggiri, tongkol dengan produksi rata-rata perhari sebanyak 30–40 ton. Hasil produksi para pengolah tersebut pada umumnya dipasarkan ke wilayah Jabodetabek. Jenis olahan dan jumlah pengolah ikan di PHPT tertera dalam Tabel 12 berikut:

Tabel 12 Jenis olahan dan jumlah pengolah di PHPT Muara Angke, 2008








3)            Pangkalan Pendaratan Ikan
Kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke telah tersedia berbagai fasilitas baik yang dibangun oleh UPT PKPP dan PPI, instansi terkait maupun pihak swasta, sebagaimana yang dipersyaratkan dalam Keputusan Menteri di Kelautan dan Perikanan Nomor 10 tahun 2004 tentang pelabuhan perikanan. Fasilitas yang telah tersedia/dibangun dimaksud yaitu sebagai berikut (UPT PKPP dan PPI Muara Angke, 2008):
a.       Tempat pelelangan Ikan
b.      Pasar grosir
c.       Pasar pengecer
d.      Pabrik es
e.       Cold storage
f.       Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) /Stasiun Pengisisan Bahan Bakar (SPBU)
g.      Tempat pengepakan ikan
h.      Pusat jajan serba ikan

2.2        Mekanisme dan Sarana Distribusi Hasil Tangkapan
Kawasan  pelabuhan  perikanan dan pangkalan pendaratan  ikan Muara Angke telah menyediakan berbagai fasilitas/sarana yang dibangun oleh UPT PKPP dan PPI, instansi – instansi terkait, serta pihak swasta, seperti yang di tertera dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10 tahun 2004 mengenai Pelabuhan Perikanan. Beberapa fasilitas yang telah dimanfaatkan di pangkalan pendaratan ikan Muara Baru adalah sebagai berikut:
1)            Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Tempat pelelangan ikan di PPI Muara Angke mempunyai berperan dalam meningkatkan pendapatan nelayan. Hal ini dikarenakan pemerintah Propinsi DKI Jakarta memberikan pelayanan lelang sehingga harga ikan yang berada dalam proses lelang tersebut merupakan harga optimal yang dapat di peroleh nelayan. Tempat pelelangan ikan ini melayani sekitar 15 kapal dan 45 perahu yang melakukan pembongkaran ikan  hasil tangkapan di Muara Angke. Total produksi ikan yang masuk ke Propinsi DKI Jakarta adalah sebesar 100 – 125 ton. Tempat pelelangan ikan ini di kelola oleh Koperasi Mina Jaya yang bekerjasama dengan pihak UPT PKPP PPI Muara Angke.
2)            Pasar Grosir
Salah satu mata rantai distribusi pemasaran di Muara Angke adalah pasar grosir. Pasar grosir memiliki 870 stand yang di manfaatkan oleh 275 pedagang grosir, da pada tahun 2007 – 2008 pemerintah telah menambahkan jumlah stand sebanyak 216. Ikan yang diperjual belikan yaitu berasal dari hasil lelang di PPI Muara Angke dan didatangkan dari daerah lain seperti Tuban, Pekalongan, Tegal, Cilacap, dan Lampung. Aktivitas jual beli di PPI Muara Angke dilakukan pada malam hari, dan dalam semalam perdagangan ikan di pasar grosir mencapai 35 ton.
3)            Pasar Pengecer
Pasar pengecer mempunyai stan sebanyak 150 buah yang di manfaatkan oleh 148 pedagang pengecer. Pasar pengecer dimanfaatkan oleh para konsumen dan pengunjung yang akan mengkonsumsi ikan bakar di pusat jajan serba ikan di sekitar kawasan Muara Angke. Omset perminggu perpedagang mencapai angka 500 kg.
4)            Pabrik Es dan Cold Storage
Pabrik es di PPI Muara Angke berjumlah 1 unit dengan kapasitas 100.000 ton, sedangkan cold storage juga berjumlah 1 unit dengan kapasitas 1000 ton.
5)            SPBU /SPBB
Fasilitas SPBU di PPI Muara Angke dibangun diatas lahan seluas 2212m2. SPBU ini dibagi menjadi 2 fingsi, yang pertama SPBU untuk melayani kebutuhan kendaraan darat dan SPBB untuk melayani kebutuhan kapal perikanan.
6)            Tempat Pengepakan Ikan
Fungsi dari tempat pengepakan ikan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan ikan segar di supermarket dan kebutuhan pasar ekspor. Jumlah gedung pengepakan sebanyak 30 unit, dengan masing – masing mempunyai luas antara 50 – 200 m2.
7)            Pusat Jajan Serba Ikan
Fasilitas pusat jajan serba ikan berfungsi untuk merangsang minat masyarakat untuk mengkonsumsi ikan dan menciptakan peluang pasar produk hasil perikanan. Jumlah kios pada fasilitas ini sebanyak 24 buah dengan ukuran 5x17m.
8)            Instansi Lain, Fasilitas Sosial, dan Fasilitas Umum
PPI Muara Angke terdapat kantor instansi pemerintahan maupun kelembagaan serta fasilitas sosial dan umum. Bahan baku  ikan yang masuk kedalam PPI Muara Angke dibagi menjadi dua kelompok yaitu berdasarkan daerah penangkapan ikan  dan daerah asal pengiriman lewat darat. Ikan yang masuk berdasarkan daerah penangkapan adalah ikan – ikan hasil tangkapan nelayan yang di daratkan di PPI Muara Angke yang kemudian akan di distribusikan keluar daerah. Ikan yang masuk berdasarkan daerah pengiriman asal lewat darat adalah ikan – ikan yang didatangkan ke PPI Muara Angke untuk memenuhi kebutuhan bahan baku ikan apabila hasil tangkapan dirasa kurang dalam memenuhi permintaan konsumen.
9)            Ikan yang didaratkan di PPI Muara Angke
Ikan hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Muara Angke berasal dari perairan Bangka Belitung, perairan Sumatera, perairan Karimata, Laut Jawa, Kepulauan Natuna, Teluk Jakarta, dan Karimun Jawa. Hasil tangkapan yang paling banyak yaitu dari jenis ikan pelagis seperti ikan Layang dan Tongkol.
Ikan yang didatangkan ke PPI Muara Angke adalah berasal dari daerah Tuban, Cilacap, Indramayu, Pekalongan, Serang, Subang, Pandeglang, Lampung, Indramayu, Surabaya, Rembang, Lebak. Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2004 daerah yang menjadi pemasok ikan terbesar adalah dari propinsi Jawa Tengah yaitu daerah Indramayu, serta dari propinsi Jawa Timur yaitu Surabaya. Banyak nya ikan yang masuk ke PPI Muara Angke berasal dari luar daerah salah satunya karena lokasi pelabuhan yang strategis untuk pemasaran  yang berada di ibukota.
Secara khusus hasil tangkapan di PPI Muara Angke dibagi kedalam 3 jenis saluran distribusi, yaitu distribusi ikan segar, ikan hias, dan ikan olahan.
1.      Distribusi Ikan Segar
Secara umum pemasaran ikan segar di PPI Muara Angke melaui 3 jalur, yaitu ikan hasil tangkapan ditimbang dan di lelang di TPI, di jual langsung ke konsumen tanpa melalui pelelangan, dan yang ketiga adalah ikan didaratkan kemudian melalui pelelangan selanjutnya oleh bakul akan langsung di jual ke konsumen.
2.      Distribusi Ikan Hias
Jalur pemasaran ikan hias di PPI Muara Angke merupakan rantai yang pendek dimana ikan di jual langsung ke konsumen tanpa melaui pelelangan.
3.      Distribusi Ikan Olahan
Jalur pemasaran ikan olahan hampir sama dengan jalur pemasaran ikan segar, yaitu dimulai dari pengolah kemudian di ambil oleh pedagang grosir, yang kemudian di salurkan kepada para agen. Agen-agen tersebut manyalurkan ikan olahan kepada pedagang pengecer, dan selanjutnya langsung pada konsumen.
Aktivitas distribusi hasil tangkapan di PPI Muara angke diawali dengan aktivitas pendaratan dan pembongkaran, dan kemudian di lanjutkan dengan aktivitas pelelangan di tempat pelelangan ikan yang telah disediakan oleh pihak PPI. Setelah terjadi pelelangan dan transaksi jual beli di TPI maka ikan hasil tangkapan tersebut akan didistribusikan kedaerah daerah konsumen yaitu sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Saluran pemasaran hasil tangkapan di PPI Muara Angke di mulai dari nelayan Muara Angke dan nelayan luar daerah.
Nelayan Muara Angke menjual hasil tangkapan nya melalui TPI dan sebagian langsung ke pedagang grosir, sedangkan untuk nelayan luar daerah menjual hasil tangkapannya kepada pedagang pengumpul di daerah masing – masing yang kemudian baru disalurkan ke pedagang grosir di Muara Angke. Setelah itu pedagang grosir akan menyalurkan ikan hasil tangkapan ke pasar tradisional di Jabotabek dan 14 pasar tradisional di DKI Jakarta. Pasar – pasar tersebut yang akan menyalurkan langsung pada konsumen. Adapun 14 pasar lokal di Jakarta antara lain pasar pengecer Bendungan Hilir, Palmerah, Pasar Minggu, Pasar Higienis Pejompongan, Pademanagn, Pasar Cengkareng, Pasar Sunter, Tanah Abang, Jembatan Lima, Klender, Grogol, Teluk Gong, Citra Garden, Pondok Labu.

2.3        Permasalahan Distribusi Hasil Tangkapan
Jenis-jenis ikan tangkapan dan yang di datangkan ke PPI Muara Angke memiliki berbagai macam jenis ikan. Ikan yang didaratkan di PPI Muara Angke seperti cumi-cumi, cucut, kembung, tenggiri, selar, kakap merah, pari, kerapu, kue, layang, bawal, tongkol, sotong dan lain-lain. Jenis ikan yang di daratkan dari hasil tangkapan berasal dari daerah penangkapan (fishing ground) perairan teluk Jakarta/perairan Kepulauan Seribu, sepanjang pesisir Pantai Utara Jawa, perairan Kalimantan, Perairan Sumatra, Karimun Jawa, Perairan Bawean dan Perairan Masalembo dan perairan lainnya. Pada jenis ikan yang didatangkan dari luar daerah jakarta adalah ikan bawal, belanak, cumi-cumi, kembung, kakap, dan lain-lain. Ikan yang di datangkan berasal dari daerah Tuban, Pelabuhan ratu, Surabaya, Losari, Lampung, Cilacap, Indramayu, Subang, dan lain-lain. Pengiriman ikan yang masuk kepelabuhan PPI Muara Angke dapat melalui darat dan laut.
Distribusi hasil tangkapan ikan sering dilakukan oleh setiap pelabuhan, dimana proses distribusi hasil tangkapan bertujuan untuk saling memenuhi kebutuhan setiap daerah agar merata dan sesuai dengan permintaan. Distribusi hasil perikanan juga untuk membantu meperoleh suatu pendapatan pelabuhan dan membantu masyarakat agar dapat merasakan langsung keuntunganya dari perputaran ekonomi tersebut, salah satunya terciptanya lahan pekerjaan. Dengan adanya fasilitas pelabuhan diharapkan proses distribusi hasil tangkapan berjalan dengan baik dan kualitas ikan yang terjaga. Proses penanganan ikan-ikan yang didatangkan dan didaratkan harus ditangani dengan tepat agar kualitas ikan terjaga dan tidak menurun kualitasnya saat pengiriman dan pendaratan.
Hasil tangkapan ikan yang sudah didaratkan akan didistribusikan oleh para pengusaha dan pedagang hingga sampai ke tangan konsumen. Dalam suatu pendistribusian suatu produk pasti akan melibatkan beberapa tahapan yang disebut dengan saluran pemasaran atau saluran distribusi. Saluran distribusi di Muara Angke memiliki rangkaian pedagang yang terlibat didalam menyalurkan hasil tangkapan dari PPI Muara Angke ke tangan konsumen.Proses pendistribusian hasil tangkapan melibatkan beberapa faktor pemasaran.Dalam distribusi tentu tidak berjalan dengan baik, ada hambatan-hambatan yang akan mengganggu dalam proses distribusi dimana ikan akan di pasarkan.Permasalahan distribusi hasil tangkapan di PPI Muara Angke dapat berupa proses penyimpanan, pengiriman, akses stabilitas, dan harga.

2.3.1  Permasalahan Distribusi Hasil Tangkapan Pelabuhan Muara Angke
Permasalahan pada ikan yang didaratkan di PPI Muara Angke dapat dilihat berupa:
a)            Teknik penyimpanan ikan selama di dalam kapal.
Dalam penangkapan ikan kapal yang berlayar akan menempuh waktu dan jarak yang cukup lama dan jauh. Selama proses penangkapan dibutuhkan tempat penyimpanan ikan seperti cold storage/lemari pendingin yang dimana hal tersebut dapat membantu menjaga kualitas ikan, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lama dan ikan yang tidak mudah rusak. Kondisi yang saat ini penangkapan ikan dengan kapal yang memiliki cold storage yang rusak atau bahkan tidak dilengkapi dengan mesin pendingin, sehingga tidak sedikit ikan yang saat didaratkan rusak. Rusaknya ikan yang didaratkan dapat menurunkan harga jual ikan yang ditangkap oleh nelayang yang dapat mengakibatkan tidak lakunya ikan yang rusak tersebut.
b.            Penanganan pendaratan ikan,
Pada proses pendaratan ikan di semua pelabuhan di indonesia khususnya di PPI Muara Angke masih belum terjaga kebersihannya. Proses pendaratan yang dilakukan di PPI Muara Angke masih bersifat tradisional, dimana ikan yang didaratkan tidak menggunakan es dan tidak steril. Proses pendaratan ikan yang tidak steril dan tidak menggunakan es dapat menimbulkan banyak bakteri yang dapat mempercepat pembusukan pada ikan, dan dapat membahayakan bagi memakan ikan tersebut karena tidak layak untuk di konsumsi.
c.             Teknik penyimpanan ikan baik pengiriman, pengolahan,dan sebelum penjualan,
Proses penyimpanan setelah ikan didaratkan juga memiliki peran penting dimana padasaat ikan akan di kirim, diolah dan dijual. Ikan hasil tangkapan yang didistribusikan ke pabrik dan penjualan untuk saat ini masih bersifat tradisional. Teknik penyimpanan tradisional tidak mampu bertahan lama dan hanya mampu dalam waktu beberapa jam saja. Dalam pengiriman jarak jauh cendrung lebih banyak menggunakan es yang mengakibatkan tingginya biaya yang di keluarkan dan mengakibatkan naiknya harga ikan.
d.            Hasil tangkapan dibiarkan begitu saja membusuk akibat pasar lokal yang tidak mampu menyerap,
Pada musim-musim ikan yang melimpah hasil tangkapan akan melimpah, akan tetapi kurangnya daya serap masyarakat mengakibatkan hasil tangkapan yang terbuang. Kurang sadarnya masyarakat akan makan ikan dapat menjadi faktor kendala yang mempengaruhi hambatan distribusi sehingga ikan yang tidak dapat diserap akan dibuang dan membusuk.

2.3.2  Permasalahan Distribusi Hasil Tangkapan Keluar Pelabuhan Muara Angke
Hasil tangkapan ikan yang berada di PPI Muara Angke akan di distribusikan pada daerah-daerah yang memiliki daya serap. Adanya hambatan dalam pendistribusian dapat menjadi faktor menurunnya/rusaknya ikan. Banyak permasalahan yang menjadi kendala dari pendistribusian hasil tangkapan ikan untuk dikirim keluar PPI Muara Angke, yaitu:
a)            Teknik pengiriman hingga sampai pada konsumen.
Untuk menjaga kualitas ikan saat akan di distribusikan pada konsumen dibutuhkan teknik pengiriman iakan yang baik demi menjaga kualitas ikan. Pada teknik pengiriman ikan saat ini banyak yang tidak memperhatikan kualitas ikan yang akan di kirim, sehingga saat ikan sampai pada konsumen ikan dalam kondisi yang sudah rusak.
b)            Akses stabilitas antara wilayah pemasok hasil tangkapan dan wilayah pasar relatif rendah,
Selain memperhatikan penyimpanan saat proses pengiriman ada yang perlu di perhatikan yaitu baik jarak dan kelancaran jalan. Dari jarak dan kelancaran jalan/transportasi sangat mempengaruhi ketahanan kualitas ikan, terlebih jika jarak tempuh yang jauh dan jalan yang padat atau terhambat karena kemacetan. Pada PPI Muara Angke distribusi ikan sering terkendala akses stabilitasnya terhambat baik jalan kota Jakarta yang padat dan dan jarak yang sulit di jangkau sehingga dapat rusaknya kualitas ikan. Jarak yang jauh dan ikan yang mudah busuk dapat mempengaruhi harga jual.
c)            Produksi penangkapan ikan yang tinggi tidak memberikan nilai tambah yang tinggi terhadap kesejahtraan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan,
d)           Kualitas yang menurun saat sampai di konsumen,
Hasil tangkapan ikan yang akan dikirim pada konsumen meiliki kendala dimana ikan yang mudah rusak. Faktor yang mempengaruhi yaitu teknik pengangkutan pada saat pengiriman yang kurang baik.
e)            Industri pengolahan kekurangan bahan baku.
Adanya pendistribusian yang tidak baik akan menghambat proses pengolahan ikan sehingga dapat memungkinkan kekurangan bahan baku pada pabrik pengolahan.

2.4        Solusi Permasalahan Distribusi Hasil Tangkapan
Distribusi merupakan kegiatan penyaluran barang produksi dari tangan produsen ke tangan konsumen. Distribusi juga dilakukan pada kegiatan di pelabuhan perikanan, salah satu contohnya distribusi hasil tangkapan.
Alasan mengapa hasil tangkapan perlu didistribusikan karena produk ikan yang cepat membusuk sehingga perlu cepat sampai ke tangan konsumen. Semakin cepat ikan tersebut sampai ke tangan konsumen nilai ekonominya akan semakin tinggi.
Distribusi hasil tangkapan ke tangan konsumen seringkali mengalami penurunan mutu dikarenakan penanganan ikan di pelabuhan yang kurang baik dan tidak memperhatikan kebersihan, sehingga mutu ikan yang akan didistribusikan rusak dan tidak jadi didistribusikan.
Solusi dari permasalahan terhambatnya distribusi ikan di PPP Muara Angke yaitu dengan mengidentifikasi karakteristik daerah hinterland, permasalahan penanganan ikan yang ada di dalam pelabuhan tersebut ataupun permasalahan distribusi barang yang keluar pelabuhan, seperti melihat faktor-faktor apa saja yang menghambat aliran barang menuju hinterland sehingga dapat membuat alternatif  jika terjadi kemacetan dengan begitu dapat merancang dan membuat akses jalan khusus untuk ditribusi barang baik yang masuk ke PPP Muara Angke ataupun barang yang keluar untuk didistribusikan ke tangan konsumen melalui jalur darat. Tujuannya tidak lain agar distribusi lebih cepat sampai ke tangan konsumen ( efisiensi waktu ), kualitas ikan bisa terjaga karena waktu yang diperlukan tidak banyak, menekan biaya operasional, dll.

III. PENUTUP

3.1        Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat di ambil dari isi makalah ini berdasarkan tujuan yang ada adalah, permasalahan pada ikan yang didaratkan di PPI Muara Angke dapat dilihat berupa:
a.       Teknik penyimpanan ikan selama di dalam kapal.
b.      Penanganan pendaratan ikan, pada proses pendaratan ikan di semua pelabuhan di indonesia khususnya di PPI Muara Angke masih belum terjaga kebersihannya.
c.       Teknik penyimpanan ikan baik pengiriman, pengolahan,dan sebelum penjualan, proses penyimpanan setelah ikan didaratkan juga memiliki peran penting dimana padasaat ikan akan di kirim, diolah dan dijual. Ikan hasil tangkapan yang didistribusikan ke pabrik dan penjualan untuk saat ini masih bersifat tradisional.
d.      Hasil tangkapan dibiarkan begitu saja membusuk akibat pasar lokal yang tidak mampu menyerap, pada musim-musim ikan yang melimpah hasil tangkapan akan melimpah, akan tetapi kurangnya daya serap masyarakat mengakibatkan hasil tangkapan yang terbuang.
Solusi dari permasalahan terhambatnya distribusi ikan di PPP Muara Angke yaitu dengan mengidentifikasi karakteristik daerah hinterland, permasalahan penanganan ikan yang ada di dalam pelabuhan tersebut ataupun permasalahan distribusi barang yang keluar pelabuhan, seperti melihat faktor-faktor apa saja yang menghambat aliran barang menuju hinterland sehingga dapat membuat alternatif  jika terjadi kemacetan dengan begitu dapat merancang dan membuat akses jalan khusus untuk ditribusi barang baik yang masuk ke PPP Muara Angke ataupun barang yang keluar untuk didistribusikan ke tangan konsumen melalui jalur darat.




DAFTAR PUSTAKA

Malik, Jajang, 2006. KAJIAN DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN IKAN DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) MUARA ANGKE, JAKARTA TIMUR. Fakulta Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Setyohadi, Daduk , 2008. BIOLOGI DAN DISTRIBUSI SUMBERDAYA UDANG PENAEID BERDASARKAN HASIL TANGKAPAN DI PERAIRAN SELAT MADURA (Biology, And Catch Distribution Of Penaeid Shrimp In Madura Straits). Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang